Ketika “Bondo Nekat” Menjadi “Bondo Nekat Kreatif”
Bonek Mania menggelar aksi parade bela Persebaya di jalan-jalan protokol Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (26/12). Mereka menuntut agar status Persebaya diakui kembali oleh PSSI/juara.net. |
Satu hal yang turut membuat sepak bola Indonesia menarik dan
bersejarah, selain tingginya animo penonton, adalah fanatisme pendukung. Fanatisme
ini bisa diartikan sebagai loyalitas atau kesetiaan, yang terkadang total dan
tak bisa diganggu-gugat, sampai-sampai bisa mengikis akal sehat. Tentu sulit
memahami ada orang yang rela melakukan apapun demi klub kesayangan. Apa saja
dikorbankan, bahkan sampai nyawa sekalipun.
Beberapa klub menyandang nama besar tidak hanya karena
prestasi, juga keberadaan penggemar fanatik. Persija Jakarta tidak hanya
dikenal karena menjadi satu-satunya klub
ibu kota yang masih eksis hingga kini, juga kisah Jakmania atau The Jakmania
yang selalu setia di pinggir lapangan. Begitu juga Pesib Bandung dengan
Bobotoh-nya, Arema dengan Aremania, dan Persipura dengan Persipura Mania.
Tidak hanya klub yang saat ini masih eksis bersama ribuan
fans di panggung utama sepak bola nasional, klub-klub yang pernah jaya pada masa
tertentu pun masih memiliki basis penggemar. Berdiri pada 1915 dengan nama
Makassar Voetbal Bond (MVB), PSM
Makassar pernah-sedikitnya-lima kali juara perserikatan dan pernah menjadi “The
Dream Team” dengan deretan pemain nasional seperti Hendro Kartiko, Aji Santoso,
Bima Sakti, Miro Baldo Bento hingga Kurniawan Dwi Julianto.
Kesetiaan warga
Sulawesi Selatan tetap tak tergoyahkan bersama pasang surut tim yang berjuluk Juku
Eja atau Ikan Merah ini. PSM masih tetap bertahan bersama
penggemarnya layaknya sekawanan “Ayam Jantan dari Timur” yang pernah
mencatatkan diri sebagai perempatfinalis Piala Winners Asia (1997/1998) dan
Liga Champions AFC (2000/2001).
Tidak hanya yang kaya prestasi, klub biasa pun memiliki
kelompok penggemar tersendiri, yang terkadang kebesaran pendukung itu turut
membesarkan klub tersebut. Menyebut nama
PSS Sleman tak terpisahkan dari Brigata Curva Sud (BCS), barisan pendukung setia
bersama klub yang berbasis di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta itu.
Saat “Super Elang Jawa”, julukan tim tersebut, bertanding maka ribuan Brigata
Curva Sud sudah pasti mendukung.
Brigata Curva Sud (BCS), fans PSS Sleman/Kompas.com |
Pemandangan menjadi lain, dan terkadang mendatangkan sensasi
tersendiri, saat laga kandang di Stadion Maguwoharjo. Sudah pasti tribun
selatan dari stadion berkapasitas 40.000 tempat duduk itu menjadi tempat “keramat”
yang tak tersentuh suporter lain. Di tempat tersebut ribuan fans akan
memamerkan koreografi unik, yang bisa membawa kita pada aksi para ultras di
klub-klub besar Eropa. Itulah cara
mereka hadir bersama PSS Sleman. Apapun hasil akhir pertandingan, kesetiaan
mereka tak pernah memudar, malah semakin menjadi-jadi.
Kesetiaan tingkat tinggi para suporter membuat pertanyaan tentang
alasan dan dasar kesetiaan itu menjadi tidak bermakna. Kesetiaan itu seakan
terwariskan, tetap melekat meski hanya pada sepotong nama klub yang tetap
bertahan melintas zaman seperti Persebaya Surabaya.
Kesetiaan suporter itu pula yang membuat klub yang berdiri
pada 18 Juni 1927 ini berani bangkit lagi setelah terbelit persoalan pelik yang
membuatnya absen selama enam tahun terakhir. Penguasa kompetisi perserikatan
ini sedang menyusun kembali kekuatan bersama Bonek, pendukung setianya.
Klub yang berdiri dengan nama Soerabhaiasche Indonesische
Voetbal Bond (SIVB) ini sedang bersiap untuk kembali ke panggung nasional,
meski harus dimulai dari kasta kedua, Liga 2. Seakan tak mau ambil pusing
dengan status itu, di bawah sokongan Jawa Pos Grup, tim berjuluk “Bajul Ijo”
itu kembali menatap masa depan.
Bonek dengan kesetiaan yang tak terperi ikut membantu, tidak
hanya dengan ikhtiar semangat dari luar lapangan, tetapi juga ikut aktif dari
dalam. Bersama rencana masa depan manajemen, Bonek pun siap mentransformasi
diri dari sekadar “bondo (modal)
nekat” menjadi “bondo nekat kreatif.”
(Kompas, 17 Februari 2017, hal.30).
Apapun tagline atau
nama yang akan dipilih, predikat tersebut membungkus semangat pembaharuan. Identitas
bonek sudah pasti tetap terjaga,
karena bagaimana pun itu mewakili jiwa dan semangat yang telah mendarah-daging.
Perubahan yang sedang disambut terkait kreativitas dan sportivitas dalam
mendukung tim kesayangan, setelah menghabiskan banyak energi turut berjuang agar Persebaya kembali berdiri.
Menyiapkan yel-yel, aksi di tribun, dan cinderamata yang paling unik, sedang diperlombakan. Hal ini bertujuan untuk memacu kreativitas
para pendukung. Tidak hanya itu, stimulus dalam bentuk kompetisi juga menyasar
bisnis skala mikro yang disebut Bonekpreneur.
Berbagai lomba kreativitas tersebut dimaksudkan untuk
pencitraan kembali atau rebranding image.
Bersama kreativitas itu, dibangun pula komitmen untuk menghilangkan
gambaran buruk yang selama ini melekat pada Bonek.
Berbagai aksi tak terpuji di sisi lapangan, seperti umpatan, kata-kata
kotor, dan caci-maki bernada SARA pun akan dibuang jauh-jauh. Bersama dengan
itu meningkatkan penghargaan terhadap perempuan dan anak-anak dengan memberi
tempat khusus kepada mereka sehingga tidak terpapar asap rokok.
Pencitraan kembali itu baru satu dari tiga rencana besar
manajemen bersama fans yang juga
meliputi pusat data (fans database)
dan Akademi Bonek (Bonek Academy). Manajemen akan mengeluarkan kartu tanda
anggota yang juga berlaku sebagai tiket terusan. Diharapkan nantinya fungsi
kartu tersebut bisa meluas, di antaranya mencakup asuransi.
Salah satu aksi Bonek di pinggir lapangan/juara.net |
“Keselamatan pendukung bukan sekadar di dalam stadion,
melainkan juga kehidupan kesehariannya,”usul Erik Lukman, bonek Batam.
Kita tentu menyambut baik perubahan yang sedang merasuk
Persebaya dan pendukungnya meski upaya tersebut tidak mudah dilakukan karena
menyangkut kepentingan puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang. Setidaknya
hal itu menjadi angin segar bagi klub legendaris itu, sekaligus langkah bagus
untuk mendukung iklim sepak bola di Indonesia.
Suporter tidak lagi dilihat sebagai pelengkap semata, tetapi
bagian penting dari perkembangan sebuah klub dan sebuah kompetisi sepak bola.
Fans bukanlah sekadar “orang luar” lapangan, apalagi pihak “haram” yang tidak
boleh bersentuhan langsung dengan sebuah klub.
Kita pasti bermimpi suatu saat fans di tanah air menjadi
seperti sebagian orang Catalonia, yang
tidak pernah absen ke Nou Camp. Mereka datang tidak hanya sekadar melihat dan mendukung
Barcelona dari dekat, tetapi lebih dari itu didorong oleh rasa memiliki dan tanggung
jawab sebagai bagian dari pemilik.
Selamat datang kembali Persebaya dan Bonek!
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 19 Februari 2017.
Comments
Post a Comment