Mourinho Siap Menyiram Cuka di Luka Lama Liverpool?
Dua pemain Liverpool, Flanagan dan Gerrard menghampiri
Mourinho usai kalah menyakitkan 0-2 di Anfield, April 2014/BBC.com
Pelatih Manchester United, Jose Mourinho bakal mendapat
tantangan ekstra kala bertandang ke Anfield, markas Liverpool dalam lanjutan
Liga Primer Inggris, Selasa (18/10) dini hari WIB nanti. Di satu sisi, pelatih
berjuluk The Special One itu menantang tim yang kian padu.
Sejak ditangani Jurgen Klopp, Liverpool terus membaik.
Permainan mereka semakin matang di segala lini. Kecepatan dalam menyerang dan
kesigapan dalam bertahan berpadu padan dalam semangat “heavy metal” kesukaan
sang pelatih. Bercokol di peringkat empat dengan raihan 16 poin menandakan
bahwa Si Merah siap menjadi pesaing dalam perburuan gelar. Ditambah lagi mereka
belum terkalahkan dalam lima laga terakhir di semua kompetisi.
Di sisi lain, Mourinho akan menghadapi sekumpulan musuh yang
bakal memadati Anfield. Belum hilang dari ingatan para Kopites, bagaimana
Mourinho menggoreskan luka di hati mereka. Di akhir musim 2013/2014, Liverpool
nyaris mengakhiri penantian gelar Liga Primer Inggris yang telah dinanti sejak
1990.
Namun Mourinho tampil sebagai pembuyar mimpi publik Anfield
yang siap berpesta. Mourinho dengan cerdik memainkan strateginya, memaksa para
pemain Chelsea bertahan sempurna-yang kemudian dikenal dengan istilah “parkir
bus”. Berkekuatan 10 pemain The Blues mampu meredam serangan Liverpool yang
kala itu dikomandoi sang arsitek Brendan Rodgers.
Serangan demi serangan tak juga mampu menembus tembok kokoh
para pemain Chelsea. Sebaliknya para pemain Chelsea dengan lihai memanfaatkan
celah yang ditinggalkan para pemain Liverpool yang asyik menyerang untuk berburu
gol. Searangan balik cepat dengan mengandalkan kecepatan para pemain depan
berbuah dua gol. Penguasaan bola yang sangat minim, 27 persen, berakhir dengan
tiga poin.
Siapa yang tidak sakit melihat timnya yang tampil dominan
gagal mendulang poin sama sekali? Dengan santai Mourinho menanggapi cercaan
lawan bahwa yang dipertontonkan itu bukan sepak bola negatif. Alih-alih mengaku
diri, pria Portugal itu menyebut bahwa kemenangan itu diraih dengan indah, dan
menilai laga tersebut tak ubahnya derby La Liga antara Barcelona vs Real
Madrid, atau Benfica kontra FC Porto di Liga Portugal. Betapa sakitnya fans
Liverpool mendengar hal itu.
Namun kali ini, ia datang tidak dengan tim yang sama dan
tidak dalam kondisi amat menentukan seperti dua musim silam. Walau demikian sama sekali tak mengurangi
tensi panas dalam laga ini.
Dengan gaya dan kepercayaan dirinya yang tak tergerus waktu,
Mourinho bakal menantang balik tuan rumah dengan modal positif dalam rekor
pertemuan kedua tim. Mourinho memiliki catatan bagus di kandang Liverpool,
demikianpun United belum terkalahkan dalam empat pertemuan terakhir di Liga
Inggris.
Secara materi, mantan pelatih Real Madrid itu memiliki
amunisi yang cukup. Pengeluaran tak kurang dari 176 juta euro atau setara Rp
2,5 triliun di bursa transfer musim ini membuat Manchester Merah dilengkapi
para pemain bintang. Tak ubahnya “galacticos” di Liga Inggris. Hal ini kontras
dengan kubu tuan rumah yang mengeluarkan uang sangat minim untuk berbelanja
pemain.
Meski demikian kedua kubu memiliki alasan tersendiri di
bursa transfer musim lalu. Mourinho yang baru bertandang ke Old Trafford butuh
pembaharuan untuk mengembalikan kejayaan yang telah lama diimpikan. Sementara Klopp
telah memiliki cukup waktu, tak kurang dari 12 bulan, untuk menginvestasikan
sumber daya yang ada termasuk memoles para pemain muda. Hasilnya sudah terlihat
di awal musim ini saat Arsenal dan Chelsea dipaksa bertekuk lutut.
Laga ini dipastikan berjalan panas. Kedua tim pasti sama-sama
mengincar kemenangan sebagai proyeksi kekuatan tim untuk melanjutkan perburuan
gelar. Namun tekanan pada tim tamu menjadi lebih besar karena bentuk yang
diharapkan belum juga terlihat. Kritik hingga ketidakpercayaan terhadap kinerja
Mourinho serta pesimisme sebagai kandidat juara bakal semakin menguat andai
saja ia kehilangan pertandingan ini.
Terlepas dari semua itu, Mourinho memiliki modal untuk
memoles tim, bahkan menciptakan keajaiban. Tidak ada yang menduga apa yang
bakal dilakukannya dua musim lalu. Seperti Klopp Mou masih butuh waktu untuk
menemukan formula yang pas, ditambah performa sejumlah pemain senior terlihat
goyah.
Secara taktis Mou bisa memanfaatkan kecepatan Marcus
Rashford dan Jesse Lingard serta kecerdikan penempatan bola Zlatan Ibrahimovic
untuk mengoyak barisan pertahanan tuan rumah. Titik lemah skuad Klopp terutama
terletak di situ yang ditandai kemasukan 10 gol, berbanding terbalik dengan
lini serang yang sangat menakutkan. Liverpool menjadi salah satu tim produktif,
total telah mencetak 18 gol atau rata-rata 2,6 gol tiap pertandingan.
Meski pertandingan ini tak ubahnya panggung bagi para pemain
asing, di atas “derita” para pemain lokal yang tersisih dan regenerasi sepak
bola Inggris yang mandek, laga tetap tak kehilangan pesona. Fans tuan rumah
tentu ingin membalas dendam terhadap Mourinho dan melihat timnya terkapar di
hadapan mereka. Demikian pun Klopp ingin terus menegaskan dominasinya atas Mou
yang sejauh ini sudah tiga kali membuat Mou mati kutu dalam lima pertemuan
mereka.
Sebaliknya Mourinho? Tentu, ia ingin menorehkan luka baru di
atas luka lama publik Anfield.
Klasemen sementara Liga Primer Inggris/BBC.com
Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana, 17/10/2016.
Comments
Post a Comment